Sabtu, 24 Oktober 2015

Kumpulan soal-soal Pendidikan Agama Islam





Soal – Soal  Pendidikan Agama Islam




1.        Niat Sholat dilafalkan dalam hati atau diucapkan di …….…………………………….………..( Lisan )
2.        Sesungguhnya pemboros itu saudara ................................................................................( syeitan)
3.        Tangan diatas lebih  baik daripada tangan di ……………………………....……………..……(bawah)
4.        Nabi dan rasul yang wajib kita ketahui berjumlah ………………………………………….. ( 25 rasul )
5.        Al Fatihah disebut juga dengan Asabul Matsani maksudnya…..…( Tujuh ayat yang berulang-ulang )
6.        Ayat diatas membuktikan bahwa allah bersifat ………………………… ( wahdaniyah)
7.        Semua ciptaan allah akan rusak binasa, tetapi allah memiliki sifat ……………......…….(kekal)
8.        Melaksanakan ibadah sholat lima waktu hukumnya ……………………………….……… ( Wajib )
9.        Nabi yang ajarannya berlaku sampai akhir zaman adalah ………………..( Nabi Muhammad  SAW )
10.    Seorang siswa yang pintar menganggap teman yang lain bodoh, termasuk sikap……..……. ( Sombong )   



Soal – Soal  Pendidikan Agama Islam

11.    Nabi muhammad di gelari al-amin yang artinya..................................................... (dapat dipercaya )
12.    Lima huruf qolqolah yaitu………………………………………………. (                                               )
13.    Perintah sholat lima waktu diterima oleh Nabi Muhammad SAW ketika peristiwa ……..( Isra’ Mi’raj )
14.    Segala sifat sempurna yang pasti ada pada allah disebut ……………………............……( sifat wajib)
15.    Sifat wajib Allah berjumlah ………………………………………………………………………( 20 )
16.    Iblis diciptakan oleh Allah dari ……………………………………………………………...…. ( api )
17.    Allahus shomad  artinya ……………………. ( Allah tempat bergantug kepadaNya segala sesuatu )
18.    Melaksanakan ibadah sholat termasuk ke dalam rukun ……………………..……..………. ( Islam )
19.    Musuh utama Nabi Adam dan keturunannya adalah ……………………………………..…… ( iblis )
20.    Ilmu yang membahas tentang tata cara membaca Al Qur’an yang baik dan benar disebut ( Ilmu Tajwid)


Soal – Soal  Pendidikan Agama Islam

21.    Dalam sholat setelah melaksanakan gerakan rukuk, kemudian melaksak……..……………….( Iktidal )
22.    Istri Nabi Adam bernama ………………………………………………………………..… ( Siti Hawa )
23.    Isi kandungan yang terdapat dalam surah An Nasr adalah ……………….… ( menjelaskan tentang perintah untuk bertasbih  memuji kepada Allah dan memohon ampunan jika  memperoleh  jika kita memperoleh kegembiraan )
24.    Subhanarobbiyal a’la wabihamdih adalah bacaan gerakan sholat ketika ….…………………..( Sujud )
25.    Nabi Adam Siti Hawa ketika diturunkan ke dunia terpisahkan selama ……. ( 300 tahun atau 3 abad )
26.    Berikan salah satu contoh idgam syamsiah ………..…. (                                                                 )
27.    Semua orang islam yang menegakkan sholat berarti menegak…................................. ( Agama Allah )
28.    Ketika diturunkan oleh Allah SWT ke bumi nabi Adam AS berada di ……..….. ( pegunungan India )
29.    Ayat ketiga dari surah Al Lahab berbunyi . (                                                                                     )
30.    Salah satu manfaat melaksanakan sholat tepat waktu  adalah ……...… ( Dapat menghargai waktu )




Soal – Soal  Pendidikan Agama Islam

31.    Seorang rasul mempunyai sifat fathonah, yang artinya............................. (cerdas, pandai, bijaksana)
32.    Sedangkan siti Hawa diturunkan oleh Allah SWT ke dunia berada di ………........….……. ( Jeddah)
33.    Lakum dinukum waliyadin artinya …………….. ( untukmu agamamu dan untukku agamaku)
34.    Ketika salam pertama kita menoleh kea rah kanan termasuk …………………….….. ( Rukun sholat )
35.    Tempat pertemuan Nabi Adam Siti Hawa  yaitu …………………….. ( Jabal rahmah atau jabal nur )
36.    Huruf – huruf idgham  bigunnah terdiri 4 macam yaitu …………….....……… (                             )
37.    Dalam sholat fardu, sholat yang hanya dikerjakan dua raka’at adalah ………………. ( sholat subuh )
38.    Jabal rahmah artinya …………………………………………………………… ….. ( bukit kasih sayang )
39.    Ada tiga macam hukum mim mati  atau tanwin yaitu …………( idhzar syafawi, ikfa safawi, dan idgam mislain )
40.     Ketika takbiratul ihram dalam sholat, membaca……………………………………… ( Allahu akbar )

Soal – Soal  Pendidikan Agama Islam

41.    Anak nabi adam yang durhaka adalah ………………………………………………………….( Qabil )
42.    Yang dimaksud dengan idgam bilagunnah adalah ………………….…..…. ( memasukkan bunyi nun mati / tanwin kedalam huruf berikutnya tanpa harus berdengung )
43.    Seorang rasul mempunyai sifat shiddiq, artinya ....................................................................(benar)
44.    Gerakan sujud yang pertama dilakukan sebelum  gerakan ……………. ( Duduk antara dua sujud )
45.    Jahiliyah artinya …………………………………………………………………… ( zaman kebodohan )
46.    Lanjutkan bunyi ayat berikut                          .........…………..(                                                       )
47.    Dalam melaksanakan sholat, berapa kali sujud setiap raka’at ……...………………………….( 2 kali )
48.    Ayah abu Lahab  bernama ………………………………………………………….. ( Abdul Mutholib )
49.    Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu adalah orang yang paling bertaqwa adalah arti dari surah ……………………………………………………….……………...………… ( Al Hujurat ayat 13 )
50.    Sholat yang tidak ada tahiyat awalnya adalah ……………….....………………….…..( sholat subuh )

PKP S1 UT Bahsa Indonesia SMP



BAB I
PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang Masalah
Permasalahan yang fundamentalis rendahnya mutu pendidikan yang dihadapi Bangsa Indonesia saat ini adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan, antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kualitas dan kuantitas guru, penyempurnaan kurikulum, pengadaan buku serta pengadaan alat pembelajaran. Namun demikian, berbagai upaya yang telah dilakukan tersebut jika dilihat berbagai indikator, mutu pendidikan di Indonesia belum juga menunjukkan peningkatan yang merata.
Berbicara tentang penyelenggaraan pendidikan di sekolah, tentunya tidak terlepas dari peran serta guru dalam melaksanakan proses pembelajaran terhadap siswa yang diwujudkan dalam bentuk interaksi belajar mengajar. Guru merupakan sumber daya pendidikan yang dberikan tugas sebagai ujng tombak untuk memberdayakan pendidikan pada masyarakat, sehingga masyarakat, sehingga masyarakat menjadi bagian dari pendidkan nasional.
Guru sebagai agen pembelajaran dituntut untuk mampu melakukan pembelajaran di masyarakat melalui lembaga pendidikan yang bertugas untuk mentransfer ilmu pengetahuan kepada peserta didik hingga peserta didik memiliki kemampuan mengembangkan diri. Proses pengembangan kemampuan peserta didik  mampu berinteraksi hingga menjadi lebih dewasa dan mampu memahami ilmu pengetahuan dan kemudian mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Agar peserta didik mampu memahami dan mengmbangkan ilmu pengetahuan, guru diharapkan mampu untuk memberikan pembelajaran dengan baik dan bermakna. Guru sebagai sumber daya pendidikan diharapkan mampu untuk memberikan kontribusi yang mendalam untuk melakukan pembelajaran pada peserta didik sesuai dengan harapan tujuan  pendidikan nasional.
Guru sebagai seorang profesional dalam dunia pendidikan diharapkan mampu melakukan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkan sehingga pembelajaran akan lebih bermaknah. Upaya menjadikan pembelajaran agar lebih bermaknah, guru diharapkan memiliki kemampuan dalam mengembangkan system pembelajarandi kelas sehingga peserta didik akan termotivasi untuk belajar dan tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran yang juga harus memperoleh perhatian guru. Pembelajaran Bahasa Indonesia pada jenjang Sekolah Menengah Pertama ditujukan untuk menumbuhkembangkan keterampilan siswa dalam berbahasa secara lisan dan tulis, termasuk di dalamnya materi tentang Drama Anak. Pemahaman tentang Drama Anak merupakan bagian dari kompetensi yang harus dimiliki siswa Sekolah Menengah Pertama, seperti tertera dalam Standar kompetensi KTSP.
Dewasa ini, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa sebagian siswa menganggap pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia adalah pembelajaran yang membosankan dan kurang menarik. Anggapan ini didukung oleh fakta-fakta yang penulis dalam pembelajaran drama anak di kelas pada waktu sebelumnya. Data-data menunjukkan bahwa apresiasi siswa terhadap materi pembelajaran Drama Anak masih belum baik. Banyak siswa yang kurang paham ketika ditanya tentang Drama Anak. Sekalipun proses pembelajaran Bahasa Indonesia sudah berlangsung cukup lama dengan pola kurikulum yang berbeda-beda, tetapi hasil belajar yang dicapai siswa masih belum optimal khususnya yang berkenaan dengan materi ”Drama Anak”. Tes akhir mata pelajaran  Bahasa Indonesia tentang Drama Anak menunjukkan bahwa: 9 orang siswa atau sekitar 43 % dari 21 siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Kondisi ini disebabkan oleh beberapa aspek, yaitu:
  1. Kebiasaan belajar siswa yang memfokuskan pada hafalan,
  2. Pemilihan metode yang kurang tepat, sehingga pembahasan materi dilakukan secara verbal,
  3.  Proses pembelajaran kurang mendorong siswa untuk menghayati suatu peristiwa kehidupan yang terjadi.
Sementara itu, berdasarkan penjabaran seputar Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), penulis mendapatkan pengertian bahwa dalam suatu pembelajaran sangat penting untuk menyusun dan menerapkan strategi pembelajaran yang kreatif  agar siswa mendapatkan pengalaman belajar yang bermanfaat. Ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak ‘mengalami’ apa yang dipelajarinya bukan ‘mengetahuinya’ (Depdiknas, 2002:1). Dari ilustrasi tersebut jelas dibutuhkan pendekatan pembelajaran yang sejalan.
 Berdasarkan pengalaman penulis sebagai guru, penelaahan konsep-konsep pembelajaran, dan diskusi-diskusi dengan rekan sejawat, pebulis menetapkan metode bermain peran sebagai alternatif dalam memperbaiki pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya materi Drama Anak. Melalui metode ini diharapkan siswa dapat mengalami pembelajaran yang bermakna saat memainkan peran tertentu, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaiman mencapainya. Mereka juga perlu menyadari bahwa apa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti, dan pada gilirannya proses pembelajaran semacam ini akan meningkatkan pemahaman siswa tentang Drama Anak.
Guna mengatasi permasalahan tersebut diperlukan suatu penelitian guna memperbaiki kegiatan pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas, yang merupakan salah satu cara yang strategis bagi guru untuk memperbaiki layanan kependidikan yang harus diselenggarakan dalam konteks pembelajaran di kelas dan peningkatan kwalitas program sekolah secara keseluruhan ( Zainal Aqih, 2006:18)
Penelitian ini dibuat untuk memperbaiki kinerja seorang guru dalam melakukan pembelajaran, juga dibuat dengan tujuan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Pemantapan Kemampuan Profesional (PKP) Mahasiswa Universitas Terbuka, yang dibantu teman sejawat dan seorang supervisor untuk mengetahui, kelemahan dan kekurangan proses pembelajaran yang telah direncanakan. Untuk memperbaiki pembelajaran dimaksud maka dilakukan penelitian dalam 3 siklus, dan penelitian itu diberi judul: “Penerapan Metode Bermain Peran Untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa Materi Drama Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas VIII.C  SMP Negeri 1 Manggar”

B.       Rumusan Masalah
Dari hasil identifikasi masalah dalam pembelajaran pembelajaran Bahasa Indonesia tentang drama anak, maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut: “Apakah dengan penerapan metode bermain peran dapat meningkatkan pemahaman siswa materi drama pada mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas VIII.C SMP Negeri 1 Manggar.”

C.      Tujuan Perbaikan Pembelajaran
Adapun tujuan perbaikan pembelajaran ini adalah:
1.        Mendeskripsikan penerapan metode bermain peran untuk meningkatkan pemahaman tentang  drama anak pada siswa kelas VIII.C SMP Negeri 1 Manggar.
2.        Memberikan solusi dan pemecahan masalah dalam minat guna meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunakan media pembelajaran yang tepat.
 
D.      Manfaat Perbaikan Pembelajaran
1.        Manfaat Bagi siswa
Agar tercapai kemampuan pemahaman baik secara yang individu dan kolektif siswa dalam mengikuti pembelajaran Bahasa Indonesia pada materi drama anak di kelas VIII C pada SMP Negeri 1 Manggar.
2.        Manfaat Bagi guru
a.       Menentukan pendekatan pembelajaran yang sesuai dan memotivasi siswa sehingga dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran.
b.      Mengembangkan kemampuan dalam menerapkan metode bermain peran dalam pelajaran bahasa Indonesia
c.       Meningkatkan pemahaman tentang berbagai metode/strategi pembelajaran guna meningkatkan profesionalisme guru.
3.      Manfaat Bagi Sekolah
Hasil perbaikan pembelajaran dapat dijadikan bahan dalam mengembangkan program-program peningkatan kualifikasi dan kompetensi guru agar mampu melaksanakan kegiatan pembelajaran secara profesional.
4.      Manfaat Bagi Pendidikan pada Umumnya
Hasil perbaikan pembelajaran dapat dijadikan rujukan bagi pengembangan ilmu pendidikan khususnya pembelajaran bahasa Indonesia.

PTK Pendidikan Agama Islam




PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pada hakekatnya kegiatan belajar mengajar adalah suatu proses interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa dalam satuan pembelajaran. Guru sebagai salah satu komponen dalam proses belajar mengajar merupakan pemegang peran yang penting. Guru bukan hanya sekedar penyampai materi saja, tetapi lebih dari itu guru dapat dikatakan sebagai sentral pembelajaran.

Sadi Suharto

(PTK bermanfaat salah satunya untuk
mengusulkan kenaikan pangkat
bagi guru)
Sebagai pengatur sekaligus pelaku dalam proses belajar mengajar, gurulah yang mengarahkan bagaimana proses belajar mengajar itu dilaksanakan. Karena itu guru harus dapat membuat suatu pengajaran menjadi lebih efektif juga menarik sehingga bahan pelajaran yang disampaikan akan membuat siswa merasa senang dan merasa perlu untuk mempelajari bahan pelajaran tersebut.
Pelajaran Pendidikan Agama Islam disekolah memiliki peran penting dilihat dari tujuannya yaitu :
1.      Menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengalaman, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang Agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang harus berkembang keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah SWT.
2.      Mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama dan berakhlak mulia yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, etis, berdisiplin, bertoleransi, menjaga keharmonisan secara personal dan sosial serta mengembangkan budaya agama dalam komunitas sekolah.
Berhasilnya tujuan pembelajaran ditentukan oleh banyak faktor diantaranya adalah faktor guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar, karena guru secara langsung dapat mempengaruhi, membina dan meningkatkan kecerdasan serta keterampilan siswa. Untuk mengatasi permasalahan di atas dan guna mencapai tujuan pendidikan secara maksimal, peran guru penting dan diharapkan guru memiliki cara/model mengajar yang baik dan mampu memilih model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan konsep-konsep mata pelajaran yang akan disampaikan.
Banyak ditemukan di lapangan bahwa guru menguasai materi suatu subjek dengan baik tetapi tidak dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik. Hal itu terjadi karena kegiatan tersebut tidak didasarkan pada memilih model pembelajaran tertentu sehingga hasil belajar yang diperoleh nilai siswa rendah. Timbul pertanyaan apakah mungkin dikembangkan suatu model pembelajaran yang sederhana, sistematik, bermakna dan dapat digunakan oleh para guru sebagai dasar untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik sehingga dapat membantu meningkatkan motivasi berprestasi dan hasil belajar.
Proses pembelajaran dapat dirancang tidak hanya berinteraksi dengan guru sebagai satu-satunya sumber belajar yang mungkin dapat dipakai untuk mencapai hasil pembelajaran, melainkan mencakup interaksi dengan semua sumber belajar yang mungkin dapat dipakai untuk mencapai hasil yang bermakna.
Peserta  didik dipandang dalam kegiatan pembelajaran  sebagai individu dan sosial. Setiap peserta didik memilki perbedaan minat (interest), kemampuan (ability), kesenangan (preference), pengalaman (experience), dan cara belajar (learning style). Peserta  didik  tertentu mungkin lebih mudah belajar dengan cara mendengar dan membaca, sedangkan peserta didik lain dengan cara melihat, dan peserta didik yang lainnya lagi belajar dengan cara melakukan (learning by doing). Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran, organisasi kelas, materi pelajaran, waktu belajar, alat belajar, dan cara penilaian perlu disesuaikan dengan karakteristik peserta didik (Sutrisno, 2005: 63).
Muhammad (1981: 8) mengatakan bahwa setelah guru memikirkan bahan pelajaran, hendaklah ia memikirkan cara menyampaikan bahan ke dalam pikiran peserta didik, dengan memperhatikan tujuan pembelajaran, dan keadaan peserta didik. Guru harus memikirkan metode yang paling baik untuk menyusun materi pembelajaran, dan bahan pembelajaran sebagai mata rantai yang sambung-menyambung.
Selain itu, dalam kegiatan pembelajaran guru sebaiknya memperhatikan perbedaan individual peserta didik, yaitu pada aspek biologis, intelektual, dan psikologis. Kerangka pemikiran demikian dimaksudkan agar guru mudah dalam melakukan pendekatan kepada setiap peserta didik secara individual. Peserta didik sebagai individu memliki perbedaan sebagaimana disebutkan di atas. Pemahaman ketiga aspek tersebut akan merapatkan hubungan guru dengan peserta didik, sehingga memudahkan melakukan pendekatan mengajar.
Penguasaan kemampuan pelajaran Pendidikan Agama Islam aspek akidah diperlukan  strategi  yang  tepat  dan  cocok.  Salah  satu  strategi  yang  diterapkan di SD Negeri 1 Manggar adalah model pembelajaran mastery learning. Strategi ini meliputi dua kegiatan, yaitu program pengayaan dan perbaikan (Arikunto, 1988: 31).
Proses pembelajaran  dengan menggunakan prinsip Belajar tuntas (mastery learning) menguntungkan bagi peserta didik, karena dengan kegiatan pembelajaran ini setiap siswa dapat dikembangkan semaksimal mungkin. Pandangan yang menyatakan semua peserta didik dapat belajar dengan hasil  yang baik juga akan mempunyai imbas pada pandangan  bahwa guru dapat mengajar dengan baik.
Belajar tuntas pada dasarnya akan menjadikan peserta didik memiliki kemampuan dan mengembangkan bakat yang dimilikinya, mengecilkan perbedaan intelegensi tinggi dengan intelegensi normal. Belajar tuntas (mastery learning) menjadikan peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran, sehingga di dalam kelas tidak terjadi intelegensi tinggi akan mencapai semua tujuan pembelajaran sedang anak didik yang intelegensi normal mencapai sebagian tujuan pembelajaran atau tidak mencapai sama sekali tujuan pembelajaran (Yamin 2007: 121).
Belajar tuntas dilandasi oleh dua asumsi. Pertama, mengatakan bahwa adanya korelasi antara tingkat keberhasilan dengan kemampuan potensial (bakat). Hal ini dilandasi teori tentang bakat yang dikemukakan oleh Carrol (1953) yang menyatakan bahwa apabila peserta didik didistribusikan secara normal dengan memperhatikan kemampuannya secara potensial untuk beberapa bidang pengajaran, kemudian mereka diberi pengajaran yang sama dan hasil belajarnya diukur, ternyata akan menunjukkan distribusi normal. Hal ini berarti bahwa peserta didik yang berbakat cenderung untuk memperoleh nilai tinggi. Kedua, apabila pelajaran dilaksanakan secara sistematis, maka semua peserta didik akan mampu  menguasai bahan yang disajikan kepadanya, (Mulyasa, 2004: 53-54).
Metode mengajar yang guru gunakan dalam setiap kali pertemuan kelas bukanlah asal pakai, tetapi setelah melalui seleksi yang berkesesuaian dengan perumuan tujuan intruksional khusus. Sebab dalam kegiaatan belajar mengajar, mengajar bukan semata persoalan menceritakan. Belajar bukanlah konsekuensi otomatis dari perenungan informasi ke dalam benak siswa. Belajar memerlukan keterlibatan mental dan kerja siswa sendiri. Penjelasan dan pemeragaan semata tidak akan membuahkan hasil belajar yang langgeng. Yang bisa membuahkan hasil belajar yang langgeng hanyalah kegiatan belajar aktif.
Agar belajar menjadi aktif siswa harus mengerjakan banyak sekali tugas. Mereka harus menggunakan otak, mengkaji gagasan, memecahkan masalah, dan menerapkan apa yang mereka pelajari. Belajar aktif harus gesit, menyenangkan, bersemangat dan penuh gairah. Siswa bahkan sering meninggalkan tempat duduk mereka, bergerak leluasa dan berfikir keras (moving about dan thinking aloud)
Untuk bisa mempelajari sesuatu dengan baik, kita perlu mendengar, melihat, mengajukan pertanyaan tentangnya, dan membahasnya dengan orang lain. Bukan Cuma itu, siswa perlu “mengerjakannya”, yakni menggambarkan sesuatu dengan cara mereka sendiri, menunjukkan contohnya, mencoba mempraktekkan keterampilan, dan mengerjakan tugas yang menuntut pengetahuan yang telah atau harus mereka dapatkan.
Salah satu masalah dalam pembelajaran di sekolah adalah rendahnya minat peserta didik ketika memahami ke pelajaran Pendidikan Agama Islam dalam  aspek materi Tarikh. Hal ini tentunya disebabkan oleh berbagai faktor, baik faktor dari dalam (internal) maupun faktor dari luar (eksternal). Menurut Suryabrata (1982: 27) yang termasuk faktor internal adalah faktor fisiologis dan psikologis (misalnya kecerdasan motivasi berprestasi dan kemampuan kognitif), sedangkan yang termasuk faktor eksternal adalah faktor lingkungan dan instrumental (misalnya guru, kurikulum, dan model pembelajaran). Bloom (1982: 11) mengemukakan tiga faktor utama yang mempengaruhi hasil belajar, yaitu kemampuan kognitif, Afektif dan Psikomotor, untuk mewujudkan pola pengembangan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan tentunya guru haruslah mencari dan menemukan pola pembelajaran yang sesuai dengan pokok materi yang atau lebih dikenal dengan model pembelajaran yang efektif dan menyenangkan.
Dengan memperhatikan permasalahan diatas, khususnya pada aspek Al Quran dalam pembelajaran Pendidikana Agama Islam perlu dicarikan sebuah model pembelajaran yang dapat dijadikan sebagai sarana pencapaian tujuan kompetensi yang di inginkan dalam pembelajaran tersebut. Berbicara mengenai model pembelajaran memanglah sangat banyak namun tentunya guru harus memilih dengan mempertimbangkan banyak hal terutama menyesuaikan kompetensi, tujuan pembelajaran serta tingkat kelas dan hal-hal lainnya. Dalam kesempatan ini penulis ingin mengemukakan hasil penelitian dengan model pembelajaran Mastery Learning pada penyampaian aspek akidah pada pelajaran Pendidikan Agama Islam, dengan judul yang diambil dalam penelitian ini adalah Meningkatkan  Prestasi  Belajar  Pendidikan  Agama  Islam  Dengan  Menerapkan  Model Pembelajaran Mastery Learning Pada Siswa Kelas V.A  SD Negeri 1 Manggar Kabupaten Belitung Timur Tahun Pelajaran 2011/2012

B.     Rumusan Masalah
Bertitik tolak dari latar belakang diatas maka penulis merumuskan permasalahnnya sebagi berikut:
1.        Apakah penerapan model pembelajarn Mastery Learning dapat meningkatkan prestasi siswa terhadap materi pelajaran Pendidikan Agama Islam pada siswa Kelas V.A  SD Negeri 1 Manggar Kabupaten Belitung Timur ?
2.        Bagaimanakah pengaruh model pembelajaran Mastery Learning dalam meningkatkan motivasi belajar Pendidikan Agama Islam pada siswa Kelas V.A  SD Negeri 1 Manggar Kabupaten Belitung Timur ?

C.    Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk:
1.        Ingin mengetahui bagaimanakah peningkatan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam setelah diterapkannya model pembelajaran Mastery Learning pada siswa Kelas VA SD Negeri 1 Manggar Kabupaten Belitung Timur tahun pelajaran 2011/2012.
2.        Ingin mengetahui pengaruh model pembelajaran Mastery Learning dalam meningkatkan prestasi dan motivasi  belajar  terhadap  materi  pelajaran  Pendidikan Agama Islam  setelah  diterapkan  model  pembelajaran  tuntas  pada  siswa  Kelas VA SD  Negeri 1 Manggar Kabupaten Belitung Timur tahun pelajaran 2011/2012.

D.    Batasan Masalah
1.        Penelitian ini hanya dikenakan pada siswa Kelas VA  SD Negeri 1 Manggar Kabupaten Belitung Timur Tahun Pelajaran 2011/2012.
2.        Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan Februari semester genap Tahun Pelajaran 2011/2012.
3.        Materi yang disampaikan adalah Aspek Al Qur’an Standar Kompetensi Mengartikan Al Quran surat pendek pilihan.

E.     Manfaat Hasil Penelitian
            Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi :
1. Siswa
  1. Menambah pengetahuan dalam meningkatkan pemahaman siswa belajar Pendidikan Agama Islam
  2. Sebagai penentu kebijakan dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
2. Guru
  1. Dapat meningkatkan minat pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
  2. Dapat memotivasi siswa agar dapat belajar dengan baik.
3. Sekolah
  1. Sebagai masukan bagi sekolah yang merupakan salah satu alternatif  dalam pembelajaran.
  2. Bahan pertimbangan dilingkungan sekolah tersebut agar terbiasa melakukan Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) guna meningkatkan kwalitas proses belajar mengajar.

F.     Hipotesis Tindakan
Penelitian ini direncanakan terbagi atas ke dalam tiga siklus, setiap siklus dilaksanakan mengikuti prosedur perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing) dan refleksi (reflecting). Melalui ketiga siklus tersebut dapat diamati peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa. Sehingga dengan hipotesis sementara adalah dengan diterapkannya model  pembelajaran Mastery Learning dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
G.    Definisi Operasional Variabel
Agar tidak terjadi salah persepsi terhadap judul penelitian ini, maka perlu didefinisikan hal-hal sebagai berikut:
1.        Model Pembelajaran Mastery Learning adalah:
Merupakan model pembelajaran yang dapat dilaksanakan di dalam kelas, dengan asumsi bahwa di dalam kondisi yang tepat semua peserta didik akan mampu belajar dengan baik dan memperoleh hasil belajar secara maksimal terhadap seluruh bahan yang dipelajari (Ramayulis, 193:2005).
2.      Prestasi belajar adalah:
Hasil belajar yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau dalam bentuk skor, setelah siswa mengikuti pelajaran.
3.         Motivasi belajar adalah:
Suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan, atau keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.